sahabatku. Waktu terus beranjak dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Tak
terasa sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2011 Masehi ini,
menuju tahun 2012 mendatang. Sudahkah engkau mengingat semua perbuatan –
baik dan buruk – yang telah di lakukan selama ini? Sudahkan engkau
mengingat kematian yang pasti datang menjelang? Dan sudahkah dirimu
mengingat akherat, yang pastinya akan menjadi tempatmu untuk kembali?
Pikirkan dan renungkanlah. Karena hanya sedikit sekali engkau mengingat
akherat daripada perhatianmu terhadap duniawi. Engkau begitu
mempedulikan dunia ini dan terus saja larut dalam senda guraunya,
sehingga dengan mudahnya mengabaikan semua kepentinganmu nanti di
akherat. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya:
“Ingatlah akan akherat! Sebab kalian telah lari dari mengingatnya dan
lebih mencintai ajilah (duniawi)”.
Sungguh, cepat atau lambat
dirimu akan berpisah dengan segala yang kau senangi dari dunia ini.
Semua akan senang meninggalkanmu tanpa kau bisa berbuat apa-apa. Bahkan
apa yang selama ini kau banggakan dan kuasai akan secara paksa di rampas
darimu. Sebagai gantinya, engkau pun mati berkalang tanah di liang
kuburan. Sehingga Imam Ali RA pernah berkata: “Mengingat akhirat
merupakan obat dan kesembuhan, sedangkan mengingat dunia merupakan
penyakit paling parah”. Dan ini sejurus dengan sabda Rasulullah SAW,
berikut ini:
“Barangsiapa sering mengingat akhirat, niscaya maksiatnya berkurang” (HR. Ali bin Abi Thalib RA)
“Pilihlah (keuntungan) akhirat, niscaya dunia mendatangimu dalam keadaan hina (tunduk)” (HR. Ali bin Abi Thalib RA)
Sehingga sadarlah sahabatku, janganlah kau terus disibukkan dengan
perkara dunia ini. Jangan pula dengan kesibukan itu kau pun lalai
terhadap kewajibanmu. Atau di dalam hati dan pikiranmu hanya ada syahwat
dan kenikmatan duniawi, terus mengumpulkan kekayaan dan hanya ingin
terkenal di hadapan manusia. Padahal itu hanya akan membuatmu kian
terhina dan celaka di hadapan-Nya.
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. At-Tirmidzi)
Wahai sahabatku. Sesungguhnya seorang Mukmin itu adalah dia yang gemar
bekerja keras hingga raganya letih. Ia terus semangat dalam memenuhi
semua kebutuhan hidupnya di dunia. Namun, ia bekerja bukan untuk
menumpuk harta kekayaan, tetapi sekedar memenuhi kewajibannya kepada
Tuhannya. Pengabdiannya itu hanyalah sebagai upaya dalam menjaga amanah
Tuhan – seperti; menjaga tubuh, akidah dan ibadah – dan bukan untuk
menuruti hawa nafsu. Sehingga ia memang merasakan letih di dunia ini,
tetapi punya harapan besar bahwa di akherat kelak ia pun bisa
beristirahat dengan tenang di dalam Syurga-Nya.
Sedangkan lain
dengan mereka yang celaka, yaitu di antara pribadi yang letih di dunia
hanya demi menumpuk kekayaan dan menyenangi maksiat. Di dunia mereka ini
telah sibuk dan letih, mereka terus terburu-buru dalam menikmati
kesenangan dengan mengulur-ngulur tobat. Mereka juga selalu cemas
kalau-kalau harta yang dengan susah payah di kumpulkan akan hilang, atau
kesenangan ragawi menjadi habis (karena sakit atau tua). Bahkan nanti
di akherat, ia terpaksa harus tetap sibuk dengan segala
pertanggungjawaban lengkap dengan siksaan di Neraka. Sehingga selamanya
akan merasakan letih dalam bekerja sia-sia, tanpa pernah beristirahat
dengan nyaman.
“Orang yang berakal mengabaikan keindahan dunia
kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Begitupun seorang yang memahami
akherat cenderung memalingkan dirinya kecuali demi kebenaran. Sehingga
ia tidak menyibukkan diri untuk dunianya, melainkan sekedar untuk
menguatkan dirinya agar bisa meniti jalan menuju akherat yang penuh
ridha-Nya”
O.. renungkanlah wahai sahabatku. Tubuh yang kau
rasa cantik itu akan terkikis usia dan tak lagi indah. Ia akan terus
keriput dan akhirnya akan rusak di makan belatung. Dirimu pun menjadi
hancur dan tidak menyisakan apapun kecuali nama (itu pun jika di kenang
orang). Sehingga mau tidak mau engkau pun harus pindah ke akherat.
Karenanya, sebelum semua itu terjadi, maka sebaiknya engkau menata
langkah untuk menuju negeri akherat agar selamat. Pikirkan setiap
kebutuhanmu di dunia ini, demi bekal di akherat nanti. Yaitu amal shalih
dan senantiasa sesuai dengan contoh yang telah diberikan oleh kekasih
sejati, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.
Ibnu Umar RA pernah
berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang
seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam
kepada Nabi SAW dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang Mukmin
yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’.
Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang Mukmin yang paling cerdas?’.
Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang
paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang
paling cerdas” (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al-Haitsamiy. Syaikh
Al-Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata: hadits hasan)
Allah SWT juga mengingatkan tentang hal ini di dalam Al-Qur`an, seperti:
“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang
mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)” (QS.
Al-Aanbiya [21] : 1)
“Dan berikanlah peringatan kepada manusia
terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka
berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami
walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan
Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul,…” (QS. Ibrahim [14] : 44)
Untuk itu kekasihku. Janganlah engkau menjadi orang yang celaka.
Janganlah kau terus memenuhi hatimu dengan perhatian terhadap duniawi,
sementara dirimu mengharap dapat fokus memikirkan akherat dan
mendapatkan balasan yang nikmat. Sebab itu tidak mungkin, karena dunia
dan akherat tidak akan bisa bersatu di dalam hatimu. Sehingga jika kau
menginginkan akherat, maka lepaskanlah ketergantungan hatimu terhadap
dunia ini. Namun bila kau menginginkan dunia ini saja, maka lupakanlah
harapan indah terhadap kehidupan akherat.
“Barangsiapa yang
dapat melihat nyatanya akherat dengan mata hatinya, maka dengan
sendirinya akan menginginkan akherat. Ia merindukan balasan keindahan
yang kelak Allah SWT berikan dan segera menganggap hina kenikmatan dan
semua kelezatan duniawi yang sebenarnya terus menipu”
Ya.
Kosongkanlah hatimu dari syahwat dunia yang menipu ini. Cukuplah ia
hanya sebatas kebutuhan lahirmu, atau sesuatu yang bisa mengantarkanmu
untuk bisa hidup secara normal dan kuat dalam menempuh usia tanpa
memasukkannya ke dalam sanubari. Jangan hidup dalam kemunafikkan, yaitu
melakukan amal ibadah bukan karena Allah SWT, melainkan karena mengharap
pujian dari makhluk dan kepopuleran. Sebab, barangsiapa yang melakukan
amal perbuatan bukan karena Allah SWT, maka ia menjadi hamba yang
tersesat dan jauh dari ridha-Nya.
“Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan” (HR. Muslim).
O.. Janganlah hatimu di rampas oleh dunia, sebab ia memang suka
merampas hati seseorang dan membalasnya dengan penderitaan di akherat.
Hati-hati, karena jika engkau berbuat riya` saja, maka dirimu telah
terlena dan siap menjadi sosok yang menyekutukan Tuhan. Engkau pun jelas
melupakan Dia, sebab amal perbuatanmu kau persembahkan buat mereka,
selain Tuhanmu.
Sehingga, carilah maqom (kedudukan) yang di
tempati oleh orang-orang yang mulia. Yaitu semangat dalam mengarungi
kehidupan dunia tanpa meninggalkan kepentingan akherat sedikitpun.
Sebuah cita-cita yang tinggi dalam amal shalih dan tidak putus-putus
(istiqomah). Sebab, dengan begitu kau akan sibuk mengagungkan Tuhan dan
berusaha untuk terus mengikuti perintah-Nya serta menjauhi setiap
larangan-Nya, tanpa terkecuali.
“Allah SWT tidak meridhai dunia
bagi kekasih-Nya. Dia akan membersihkan hati kekasih-Nya itu dengan
condong pada akherat. Sebab, bila cinta pada dunia, maka ia akan cinta
pada hawa nafsu. Sedangkan saat ia cinta pada hawa nafsu, tentulah ia
akan terus menuruti kesalahan dan menjadi makhluk yang lemah”
Semoga kita senantiasa diberikan kesabaran dalam menjalani ujian
kesenangan dunia ini. Selalu mengingat kematian dan akherat yang pasti
datang demi selalu waspada dari godaan syaitan. Sebab, tiada keindahan
selain hasil mulia dari setiap kesabaran yang di jalani, yaitu balasan
anugerah-Nya atas ketaqwaan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan